Teringat nasehat kakek tua waktu perjalanan ngedan, beliau tiba-tiba bertanya kepadaku :
“Lee…apa kamu tau kambing??”
“Tau kek..” jawabku.
Kakek itu tersenyum, “Lee… apa kamu tau pekerjaan kambing itu apa?”
“Setau saya cuma makan kek,” jawabku dengan polos.
“Kamu bener lee, kerjaan kambing ya memang gitu. Karna tak ada kewajiban untuk kambing, seperti apa yang diperintahkan Allah ke manusia juga jin.” Beliau meneruskan kata-nya, : “jadi kalau kamu pikirannya hanya dipenuhi dengan makan, sama mencari makan, itu tak ada beda antara kamu sama kambing lee. Karna kambing itu kerjaannya ya cuma gitu, keluar kandang ya paling cuma nyari makan. Ndak ada yg lain, hanya makan dan makan. Agar dia tetap hidup dan tumbuh.
*Mendengar perkataan beliau, hati ini seperti dicambuk dengan begitu kerasnya.
Karena pada waktu ketemu beliau, saya masih seneng nyampah buat ngisi perut.
Kalau jalan pasti yang dilihat tempat sampah.
Beliau kembali bertanya lagi : “Lee… kamu melakukan lelaku ini karena disuruh gurumu to?”
“Injeh kek…” jawabku dengan tegas.
“Disuruh apa sama gurumu??”
“Disuruh latihan tawakal kek.. Supaya iman di hati ini semakin teguh kek. Bingung njelasinnya kek. Setau saya, saya disuruh begini, untuk taqorub ke Allah kek. Mencari ridhoNYA kek!”
Kakek itu tersenyum, sembari memegang pundak kananku, kakek itu berkata ”itu sudah benar lee..”
Beliau meneruskan,
“Saya akan sedikit cerita lee. Monggo kalau mau didengar. Smoga dengan cerita ini nantinya kamu semakin teguh di jalanmu sekarang.”
“Injeh kek..insyaallah.” jawabku semangat.
“Jadi begini lee… ada kisah. Dulu baginda rosul, Nabi Muhammad SAW sedang jalan jalan bersama sayyidina Ali k.w. Pendek cerita, di suatu tempat kanjeng nabi melihat ada seekor capung hinggap di suatu ranting. Kanjeng nabi menghentikan perjalanannya itu sejenak, sembari melihat kepada Sayyidini Ali. Beliau bersabda : ‘ya…Ali..coba lihatlah capung itu. Saya kasih tahu kepadamu ya Ali, bilamana ilmu manusia yang ada di bumi ini dikumpulkan semuanya. Itu tak lebih dari air yang ada pada ekor capung itu, Tapi ilmu Allah itu, bilamana pepohonan di seluruh dunia ini jadi pensilnya. Dan lautan di seluruh dunia ini menjadi tintanya. Niscaya tak akan cukup untuk menulis ilmu Allah.'”
Beliu memandangku : “Lee… ilmu Allah itu tak terbatas. Sedang ilmu makhluk itu terbatas.
Pesanku, jangan pernah dalam perjalananmu ini kamu terbesit pengin ilmu lee.. Taat sama gurumu saja, karna seorang salik itu sedang berjalan menyusuri tingkat kerohanian.
Jadi teruslah maju karna mengharap ridhonya, hingga kamu sampai pada tingkat yang di harapkan gurumu. Karna jika Allah sudah ridho, ndak usah kamu minta ilmu. Pasti kamu dikasih le. Dunia ini kecil, rugi kalau kamu hanya mengharap hal yang kecil ini. Terus maju…langkahkan kakimu dengan dzikir. Insyaallah Allah akan memberi kamu kekuatan untuk sampai kepadaNYA.”
“Aamiin….kek.”
“Hanya itu pesan saya le,, karena kamu seorang salik. Jadi ikuti saja apa perintah gurumu, karna gurumu itu yang sudah mencapai al arif billah. Jangan tertipu dengan bisikan hati, karna bisa saja itu hanya nafsumu sendiri.”
“Injeh terimakasi kek.” timpalku…
Bersambung…..
By: Avvan syaikhona al masyhur








0 comments:
Post a Comment